Skip to main content
Search
Search This Blog
Coretan-Coretan Ku
Mari gunakan kepala dingin untuk membaca, dan semoga bermanfaat. Salam...
Home
More…
Share
Get link
Facebook
X
Pinterest
Email
Other Apps
Labels
ilmu
April 15, 2014
HarjoshRian, Tugas: Peranan Pengetahuan Ekologi Lokal dalam Sistem Agroforestri
Makalah Agroforestri
Medan,
April
2014
Peranan Pengetahuan Ekologi Lokal dalam Sistem Agroforestri
Dosen Penanggung
J
awab
Oding Affandi S.Hut., M. P.
Disusun Oleh
:
Hamsyah R Harahap
111201134
Dedi Setiawan
111201134
Haryono Siburian
111201134
Jeskiel Sipayung
111201134
Fransiscus Sipayung
111201134
San France Manik
111201134
Marzuki Sihombing
111201134
PROGRAM STUDI KEHUTANAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
201
4
DAFTAR ISI
PENDAHULUAN
Latar Belakang
........................................................................................
1
Tujuan
.....................................................................................................
2
ISI
.......................................................................................................................
3
1.
Kepedulian Terhadap Pengetahuan Lokal
.......................................
Pergeseran Paradigma Pembangunan
...............................................
Penolakan Teknologi Oleh Petani
...................................................
Inovasi Oleh Petani
..........................................................................
2.
Pengetahuan Lokal, Pengetahuan
Indigenous
Dan Kearifan Lokal
.
Apa Yang Dimaksud Dengan Pengetahuan
....................................
Pengetahuan
Indigenous
..................................................................
Pengetahuan
Indigenous
Vs Pengetahuan Lokal
.............................
Perbedaan Antara Pengetahuan Lokal Dan Ilmiah
..........................
Pengaruh Modernisasi Terhadap Perkembangan Pengetahuan
........
Apa Yang Dapat Kita Lakukan
.......................................................
Penggabungan Pengetahuan Lokal Dalam Proses Pembangunan
....
3.
Percobaan Oleh Petani
......................................................................
Keunggulan Uji Coba Oleh Petani
...................................................
Apakah Lembaga Penelitian Masih Diperlukan
...............................
4.
Pengetahuan Lokal Dan Pengembangan Agroforestri
......................
Prinsip-Prinsip Ekologi Dasar Sistem Agroforestri
...........................................................................
Pendekatan Untuk Melibatkan Pengetahuan Lokal Dan Persepsinya Dalam
Pengembangan Agroforestri
.........................................................
5.
Penggalian, Pelestarian Dan Pengembangan Pengetahuan Ekologi Lokal
Terancamnya Pengetahuan
Indigenous
Dan Pengetahuan Lokal
.....
Pelestarian Dan Pemanfaatan Pengetahuan
Indigenous
Dan
Pengetahuan Lokal
...........................................................................
KESIMPULAN
.................................................................................................
10
DAFTAR PUSTAKA
CONTOH KASUS
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Dalam system agroforestri, masyarakat lokal merupakan faktor penting dalam upaya pengelolaan agroforestri. Petani adalah salah satu subjek penting dalam pengelolaan agroforestri. Namun petani terkadang sulit menerima perkembangan teknologi dan informasi mengingat banyak masyarakat yang masih berpegang teguh pada kebudayaan lokal.
Menurut Fujisaka (1993) dan Pretty (1995)
dalam
Sunaryo dan Joshi (2003) ada beberapa alasan yang menyebabkan teknologi dan informasi yang ditawarkan ditolak para petani, antara lain: (1) Teknologi yang direkomendasikan seringkali tidak menjawab masalah yang dihadapi petani sasaran. (2) Teknologi yang ditawarkan sulit diterapkan petani dan mungkin tidak lebih baik dibandingkan teknologi lokal yang sudah ada. (3) Inovasi teknologi justru menciptakan masalah baru bagi petani karena kurang sesuai dengan kondisi sosial-ekonomi-budaya setempat. (4) Penerapan teknologi membutuhkan biaya tinggi sementara imbalan yang diperoleh kurang memadai. (5) Sistem dan strategi penyuluhan yang masih lemah sehingga tidak mampu menyampaikan pesan dengan tepat. (6) Adanya ketidakpedulian petani terhadap tawaran teknologi baru, seringkali akibat pengalaman kurang baik di masa lalu. (7) Adanya ketidak-pastian dalam penguasaan sumber daya (lahan, dan sebagainya).
Pengetahuan lokal merupakan proses belajar yang sudah ada secara turun-temurun dengan masyarakat sebagai subjek pengelolaan. Kaitannya dengan agroforestri adalah dimana pengetahuan lokal berperan dalam pengelolaan dan pemanfaatan system agroforestri.
Pengetahuaan lokal
didapat berdasarkan pengalaman dan telah dilakukan percobaan sehingga pengetahuaan lokal merupakan sesuatu yang tidak terpisahkan dari masyarakat lokal. Untuk itu sebaiknya ada jembatan besar antara teknologi dan informasi dengan pengetahuan lokal sehingga akan mensejahterakan masyarakat.
Tujuan
Tujuan dari makalah ini adalah mahasiswa/i mampu :
1.
Memahami istilah ‘pengetahuan ekologi lokal’, ‘pengetahuan
indigenous
’, kearifan lokal
2.
Memahami perbedaan antara pendekatan formal dan informal.
3.
Memberikan gambaran kepada mahasiswa tentang pentingnya pengetahuan ekologi lokal dalam pemahaman dan
pengembangan sistem Agroforestri
ISI
1. Kepedulian terhadap Pengetahuan Lokal
1.1 Pergeseran paradigma pembangunan
Banyak usaha telah dilakukan untuk pemecahan masalah di lapangan yang didasarkan pada hasil penelitian yang diciptakan dan diusulkan oleh para ilmuwan. Usaha ini secara teknis seringkali mengalami kegagalan. Transfer teknologi dari stasiun penelitian ke lahan petani seringkali hanya diadopsi sebagian atau bahkan tidak diadopsi sama sekali oleh petani. Para petani umumnya memiliki sumber daya yang terbatas, dengan kondisi sosio-ekonomi atau budaya yang berbeda dengan kondisi di stasiun percobaan.
Dengan kata lain, diperlukan perubahan pola pendekatan baru dari yang bersifat menggurui (
teaching
) ke pola saling belajar bersama (
learning
) antara petani dengan intitusi penelitian dan pembangunan. Hal ini sejalan dengan pernyataan Cornwall
et al.
(1994) yang mengatakan bahwa kunci penerapan pendekatan partisipatif pada berbagai konsteks haruslah pendekatan tersebut lebih strategis, lebih luwes dan lebih manusiawi. Kata kuncinya adalah lebih ‘memanusiakan’ seorang manusia.
1.2 Penolakan teknologi oleh petani
Penolakan teknologi oleh petani bukan karena teknologi tersebut tidak bermanfaat, melainkan lebih ke pemahaman masyarakat tehadap pengetahuan lokal. De Boef
et al.
(1993) membantah bahwa gagalnya masyarakat mengadopsi teknologi anjuran dikarenakan mereka konservatif, tetapi lebih dikarenakan rancang-bangun teknologi anjuran tersebut tidak sesuai dengan kondisi sosio-ekonomi dan ekologi masyarakat tani. Sebetulnya dua decade lalu, Raintree (1983) telah menunjukkan lima sifat penting inovasi teknologi yang diadopsi petani yang meliputi:
·
keuntungan relatif yang didapatkan,
·
kesesuaian dengan budaya setempat,
·
kesederhanaan teknis,
·
kemudahan dalam uji coba (biasanya petani melakukan uji coba pada skala kecil sebelum mengadopsi secara utuh), dan
·
bukti nyata (untuk melihat keuntungan dari adopsi inovasi tersebut).
1.3 Inovasi oleh petani
Sudah umum diketahui bahwa rekomendasi yang dihasilkan berdasarkan penelitian ilmiah umumnya dikemas dalam satu paket. Telah disebutkan pula banyak program pembangunan dengan paket teknologi yang ditujukan ke petani kurang berhasil. Akan tetapi juga banyak bukti yang menunjukkan bahwa terlepas dari ditolaknya paket teknologi tersebut, ternyata para petani juga tertarik pada bagian dari paket teknologi tersebut. Ketertarikan tersebut akan dilanjutkan dengan uji coba dan jika hasilnya seperti harapan mereka barulah diadopsi (Chambers, 1989; Fujisaka, 1993). Para petani seringkali memodifikasi inovasi anjuran tersebut untuk disesuaikan dengan keperluan dan keterbatasan mereka. Sebagai upaya untuk memecahkan permasalahan di tingkat petani banyak ahli menganjurkan suatu penelitian dan pendekatan pembangunan alternatif untuk memperkuat kemampuan uji coba petani (Clarke, 1991; den Biggelaar, 1991; Anderson dan Sinclair, 1993; Ruddell
et al.
,1997). Cara ini umumnya mempunyai tingkat keberhasilan yang lebih tinggi daripada memberikan rekomendasi dalam bentuk satuan paket teknologi.
2. Pengetahuan lokal, pengetahuan
indigenous
dan kearifan lokal
2.1 Apa yang dimaksud dengan pengetahuan?
Pengetahuan merupakan keluaran dari proses pembelajaran, penjelasan berdasarkan persepsi. Petani sebaliknya belajar dari akibat tindakan mereka dan akan memperkaya serta mempertajam pengetahuannya. Pada saat yang bersamaan pengamatan seksama hasil uji coba, dan observasi dari tetangganya, akan lebih memperkaya system pengetahuannya. Lebih lanjut, tambahan pengetahuan petani juga mungkin diperoleh dari sumber eksternal seperti radio, televisi, tetangga, penyuluh. Ringkasnya
sistem pengetahuan bersifat dinamis
, karena terus berubah sesuai dengan waktu.
2.2 Pengetahuan
indigenous
Pengetahuan
indigenous
secara umum diartikan sebagai pengetahuan yang digunakan oleh masyarakat lokal untuk bertahan hidup dalam suatu lingkungan yang khusus (Warren, 1991). Istilah ini sering digunakan dalam pembangunan yang berkelanjutan dan dirancukan dengan pengetahuan teknis, pengetahuan lingkungan tradisional, pengetahuan pedesaan, dan pengetahuan lokal.
Penyebaran pengetahuan
indigenous
biasanya dari mulut ke mulut ataupun melalui pendidikan informal dan sejenisnya. Akan tetapi sebagaimana didapatkannya tambahan pengalaman baru, kehilangan pegetahuan juga mungkin terjadi. Pengetahuan-pengetahuan yang tidak relevan dengan perubahan keadaan dan kebutuhan akan hilang tak berbekas. Sebetulnya, kapasitas petani dalam mengelola perubahan juga merupakan bagian dari pengetahuan
indigenous
. Dengan demikian pengetahuan
indigenous
dapat dilihat sebagai sebuah akumulasi pengalaman kolektif dari generasi ke generasi yang dinamis dan yang selalu berubah terus-menerus.
2.3 Pengetahuan
indigenous
vs pengetahuan lokal
Yang dimaksud dengan masyarakat
indigenous
di sini adalah penduduk asli yang tinggal di lokasi geografis tertentu, yang mempunyai sistem budaya dan kepercayaan yang berbeda daripada sistem pengetahuan internasional. Beberapa ahli berpendapat bahwa batasan ini terlalu sempit, karena akan mengesampingkan pengetahuan masyarakat yang bukan penduduk asli yang sudah tinggal lama di suatu wilayah. Kenyataan ini menyebabkan banyak pihak yang berkeberatan dengan penggunaan istilah pengetahuan
indigenous
, dan mereka lebih menyukai penggunaan istilah pengetahuan lokal. Pengetahuan lokal merupakan konsep yang lebih luas yang merujuk pada pengetahuan yang dimiliki oleh sekelompok orang yang hidup di wilayah tertentu untuk jangka waktu yang lama. Pada pendekatan ini, kita tidak perlu mengetahui apakah masyarakat tersebut penduduk asli atau tidak. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana suatu pandangan masyarakat dalam wilayah tertentu dan bagaimana mereka berinteraksi dengan lingkungannya, bukan apakah mereka itu penduduk asli atau tidak. Hal ini penting dalam usaha memobilisasi pengetahuan mereka untuk merancang intervensi yang lebih tepat-guna.
2.4 Perbedaan antara pengetahuan lokal dan ilmiah
Sistem pengetahuan dalam lingkup pengelolaan sumber daya alam, secara garis besar dapat dibedakan menjadi dua kategori: pengetahuan ilmiah dan pengetahaun lokal (Berkes
et al.,
2000).
Pengetahuan ilmiah,
adalah suatu pengetahuan yang terbentuk dari hasil penyelidikan ilmiah yang dirancang secara seksama dan sudah terbakukan. Sebaliknya
pengetahuan lokal
adalah pengetahuan yang sebagian besar diturunkan dari pengamatan petani akan proses ekologi yang terjadi di sekitarnya dan berbagai faktor yang mempengaruhinya berdasarkan interpretasi logis petani. Pembentukan pengetahuan lokal sifatnya kurang formal dibandingkan pengetahuan ilmiah.
2.5 Pengaruh modernisasi terhadap perkembangan pengetahuan
Idealnya, pengetahuan lokal harus menjadi pertimbangan penting dalam pembangunan, tetapi pada kenyataannya peran pengetahuan lokal ini hanyalah sekedar pengakuan saja. Masih banyak para profesional yang kurang memperhatikan suara masyarakat secara nyata. Banyak agen pembangunan masih cenderung mengasumsikan bahwa masyarakat ingin tetap berpegang teguh pada cara kuno dan mereka tidak menemukan atau menutup-diri akan adanya celah keterpaduan antara pengetahuan lokal dan modern. Berdasarkan perdebatan tersebut, muncul suatu pandangan baru yang lebih mengarah ke usaha serius untuk menyuarakan norma, nilai dan pengetahuan ekologi petani, serta strategi petani dalam menghadapi permasalahannya. Evaluasi lebih lanjut tentang perbandingan antara pengetahuan lokal dan pengetahuan ilmiah, akan menghasilkan beberapa kemungkinan, di antaranya adalah:
·
sistem pengetahuan lokal dan pengetahuan ilmiah saling melengkapi,
·
kedua sistem pengetahuan tersebut selaras, sederhananya keduanya menggunakan istilah berbeda untuk hal yang sama,
·
di mana dua pandangan tersebut saling bertentangan, ini merupakan tantangan untuk diteliti secara ilmiah lebih lanjut,
·
di mana pengetahuan lokal tersebut dapat disempurnakan dan dilengkapi dengan gagasan pengetahuan modern.
Untuk membandingkan antara pengetahuan ekologi lokal dan ilmiah
melibatkan dua tahap aktivitas:
·
Tahap pertama dalam proses ini adalah mengatasi adanya hambatan bahasa dengan inventarisasi istilah lokal dan kemudian diikuti oleh eksplorasi pengetahuan lokal yang ada.
·
Tahap kedua, pemahaman tentang pengetahuan lokal yang meliputi Pemahaman tentang komponen bentang lahan, iklim, tanah, vegetasi dan fauna dan tentang dinamika hubungan antar elemen-elemen tersebut, termasuk usaha-usaha pengelolaannya.
2.6 Apa yang dapat kita lakukan?
Dalam upaya membangun sebuah jembatan besar antara pengetahuan lokal dan pengetahuan ilmiah adalah dengan merubah cara pendekatan dari penelitian pertanian konvensional ke pemberdayaan masyarakat setempat.
Artinya, pengetahuan petani, seperti halnya profesional, bersifat dinamis, dipengaruhi dan berubah oleh faktor internal maupun eksternal. Mereka menekankan bahwa keberagaman dan dinamika pengetahuan petani harus disadari dalam program pembangunan.
2.7 Penggabungan pengetahuan lokal dalam proses pembangunan
Walker
et al.
(1991) mengidentifikasi empat alasan utama mengapa harus memasukan pengetahuan
indigenous
ke dalam penelitian pertanian dan program pembangunan agar penelitian dan pembangunan tersebut lebih efisien dan efektif, yaitu:
·
Petani telah mengembangkan pengetahuan yang melengkapi pengetahuan ilmiah
·
Teknis yang dikembangkan secara
indigenous
dapat melengkapi sumber daya ilmuwan yang terbatas
·
Kombinasi efektif sektor formal dan informal menghindari terjadinya duplikasi
·
Kolaborasi, efektif memperbaiki sasaran serta fokus penelitian ilmiah.
3. Percobaan oleh petani
3.1 Keunggulan uji coba oleh petani
Meskipun percobaan yang dilakukan oleh petani beragam, akan tetapi
umumnya mempunyai keserupaan sifat, di antaranya:
·
Obyek yang dipilih relevan dengan permasalahan mereka.\
·
Kriteria penilaian yang digunakan langsung terkait dengan nilai lokal dan umumnya terkait dengan pemanfaatan produknya (rasa).
·
Pengamatan dilakukan dalam perspektif sistem kehidupan nyata, karena berlangsung selama kegiatan bertani mereka dan tidak hanya sebatas pada hasil akhir saja.
·
Percobaan berdasarkan pengetahuan petani, yang pada gilirannya akan memperkaya dan memperdalam pengetahuan tersebut.
Elaborasi metode penelitian komplementer pada pemahaman percobaan oleh petani secara lebih baik akan sangat bermanfaat dalam mencari teknologi agroforestri yang tepat-guna yang dapat diterapkan dalam lingkungan.
3.2 Apakah lembaga penelitian masih diperlukan?
Pada kenyataannya telah banyak pengetahuan dan teknologi yang telah berkembang di masyarakat, namun karena adanya keterbatasan pengetahuan lokal maka penelitian masih diperlukan. Selain itu, karena adanya keterbatasan kemampuan uji coba dan komunikasi antar petani, seringkali mereka terlambat dalam mengantisipasi perubahan kualitas sumber daya dan lingkungan yang berlangsung cepat.
4. Pengetahuan lokal dan pengembangan agroforestri
Dalam pengembangan sistem agroforestri beberapa hal penting yang harus diketahui adalah kapasitas petani dalam memahami lingkungan biofisik dan budaya setempat untuk meramalkan dan menjelaskan hasil suatu percobaan. Oleh karena itu untuk menciptakan sistem bertani yang berwawasan lingkungan dibutuhkan kerjasama yang erat dengan para petani. Pengetahuan
indigenous
merupakan pelengkap (
complement
) penting bagi pengetahuan ilmiah formal. Seperti yang dinyatakan oleh Grandstaff and Grandstaff (1986) berdasarkan pengalamannya di Thailand, para petani memang tidak punya pengetahuan ilmiah untuk memprediksi apa yang mungkin terjadi, akan tetapi tak seorangpun mampu lebih baik dalam memahami kondisi lokal mereka selain mereka sendiri.
4.1 Prinsip-prinsip ekologi dasar sistem agroforestri
Pengetahuan dan pengalaman agroekologi pertanian lokal dan pertanian berwawasan lingkungan di seluruh dunia memiliki beberapa prinsip ekologi dasar yang mengarah pada proses pengembangan agroforetsri. Perlu disadari bahwa selain prinsip-prinsip ekologi, prinsip lain yang meliputi sosio-ekonomi, dan politik juga memegang peranan yang tidak kalah penting. Prinsip-prinsip ekologi yang mendasari pengembangan agroforestri di antaranya adalah:
·
Menciptakan kondisi tanah agar sesuai untuk pertumbuhan tanaman, terutama dengan mengolah bahan organik dan memperbaiki kehidupan organisme dalam tanah.
·
Optimalisasi ketersediaan hara dan menyeimbangkan aliran hara, terutama melalui fiksasi nitrogen, pemompaan hara, daur ulang dan penggunaan pupuk sebagai pelengkap.
·
Optimalisasi pemanfaatan radiasi matahari dan udara melalui pengelolaan iklim-mikro, pengawetan air dan pengendalian erosi.
·
Menekan kerugian seminimal mungkin akibat serangan hama dan penyakit dengan cara pencegahan dan pengendalian yang ramah lingkungan.
·
Penerapan sistem pertanian terpadu dengan tingkat keragaman hayati fungsional yang tinggi, dalam usaha mengeksploitasi komplementasi dansinergi sumber daya genetik dan sumber daya lainnya.
4.2 Pendekatan untuk melibatkan pengetahuan lokal dan persepsinya dalam pengembangan agroforestri
Pendekatan untuk memasukkan pengetahuan lokal dan persepektifnya ke dalam pengembangan agroforestri secara garis besar dapat dikelompokkan menjadi tiga kategori (Walker
et al.
, 1995):
·
Pendekatan berdasarkan partisipasi aktif petani ahli setempat dalam aktivitas pembangunan, di sini tidak ada pemahaman yang memadai terhadap pengetahuan ekologi lokal oleh para ilmuwan.
·
Interaksi dengan masyarakat lokal untuk mendeskripsikan praktek dan hambatan yang ada. Hal ini untuk memperbaiki pemahaman ilmuwan akan kebutuhan yang ada di masyarakat sasaran.
·
Interaksi dengan masyarakat lokal untuk meneliti apa yang terdapat dalam pengetahuan lokal yang berhubungan dengan fungsi ekologi system agroforestri.
5. Penggalian, pelestarian dan pengembangan pengetahuan ekologi
lokal
5.1 Terancamnya pengetahuan
indigenous
dan pengetahuan lokal
Ada beberapa hal yang dapat mengancam
pengetahuan
indigenous
dan pengetahuan lokal, diantaranya
adanya pengaruh globalisasi, mau tidak mau akan memaksa masyarakat tradisional untuk menjadi bagian dari masyarakat global dengan tatanan baru. Selain itu adanya perubahan lingkungan, sosial, ekonomi dan politik yang cepat di berbagai daerah yang dihuni oleh masyarakat
indigenous
akan membahayakan bagi pengetahuan
indigenous
.
Integrasi yang efektif pengetahuan lokal dengan pengetahuan ilmiah untuk pemahaman proses ekologi yang lebih baik memerlukan teknik pengumpulan dan penyusunan pengetahuan masyarakat lokal. Namun demikian, ada kemungkinan bahwa salah satu bentuk praktek pertanian tersebut mungkin menjadi layak kembali karena perubahan kondisi dan tuntutan yang baru yang mempunyai kondisi serupa dengan sebelumnya. Untuk mencegah erosi pengetahuan lokal serta lebih mendayagunakannya, pengetahuan tersebut seharusnya idokumentasikan
dalam bentuk simpanan yang dapat diakses dan dianalisis secara lebih mudah dan efektif.
5.2 Pelestarian dan pemanfaatan pengetahuan
indigenous
dan pengetahuan lokal
Untuk mencegah erosi pengetahuan lokal serta lebih mendayagunakannya, pengetahuan tersebut seharusnya didokumentasikan dalam bentuk simpanan yang dapat diakses dan dianalisis secara lebih mudah dan efektif. Salah satu pendekatan yang banyak degunakan adalah yang dikenal dengan pendekatan Sistem Berbasis Pengetahuan (SBP =
Knowledge Based System - KBS
). Dalam aplikasi pendekatan KBS, pengetahuan ekologi lokal diartikulasikan (
articulated
) dan direpresentasikan (
represented
) sebagai 'satuan pernyataan' (
unitary statements
). Jika perlu kondisi informasi juga dapat disertakan dalam pernyataan tersebut. Istilah lokal serta hubungan hierarkinya juga dapat ‘digali’ dan direpresentasikan. Dengan bantuan teknologi komputer satuan-satuan pernyataan dasar pengetahuan ekologi lokal yang tersimpan dalam KBS ini akan lebih mudah diolah, dieksplorasi serta dipahami secara lebih baik.
Berdasarkan pengalaman yang ada, menunjukkan bahwa selama proses penyusunan basis pengetahuan biasanya akan terungkap betapa banyak dan canggih (
deep
) pengetahuan ekologi lokal petani. Ini potensial untuk memperbaiki pemahaman ilmiah terhadap agroekosistem yang relevan.
KESIMPULAN
Kesimpulan dari makalah ini adalah :
1.
DAFTAR PUSTAKA
Mulyoutami, Elok, Stefanus, Endy, Schalenbourg, Wim, Rahayu, Subekti dan Joshi, Laxman. 2004. Pengetahuan Lokal Petani Dan Inovasi Ekologi Dalam Konservasi Dan Pengolahan Tanah Pada Pertanian Berbasis Kopi Di Sumberjaya, Lampung Barat. Lampung.
Noor, Muhammad dan Jumberi,Achmadi. 2011.
Kearifan Budaya Lokal Dalam Perspektif Pengembangan Pertanian Di Lahan Rawa. Kalimantan.
Sunaryo dan Joshi, Laxman. 2003. Peranan Pengetahuan Ekologi Lokal Dalam Sistem Agroforestri. World Agroforestry Centre (ICRAF). Bogor.
http://binatani.blogspot.com/2009/10/pengembangan-sistem-agroforestri-aceh_06.html
(Diakses 1 April 2014 [20.00 WIB]).
http://siberuthijau.org/Program/
(Diakses 1 April 2014 [20.00 WIB]).
CONTOH KASUS
1.
Kalimantan,
kearifan budaya lokal dalam perspektif pengembangan pertanian di lahan rawa
Hasil penelitian dan penggalian terhadap petani di Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat menunjukkan ada beberapa hal yang menarik dari masyarakat petani di lahan rawa (Hidayat, 2000; Noor, 2007; Supriyo dan Jumberi, 2007; Ar-Riza
et al
., 2007; Noor, HDj.
et al
., 2007; Noorginayuwati dan Rafieq, 2007; Noorginayuwati
et
al
., 2007) antara lain:
1. Pola pemukiman dan konstruksi rumah yang dikenal dengan
rumah lanting
untuk di pinggir tepian sungai dan rumah panggung, rumah betang atau bertiang tinggi di daratan lahan atas.
2. Pola pertanian dan pola tanam yang dikenal dengan
banih tahun
, padi
surung
, padi
rintak
.
3. Pengelolaan dan konservasi tanah dan air yang dikenal antara lain
sistem handil, sistem anjir,
dan
sistem tabat
.
4. Pengelolaan kesuburan lahan yang dikenal antara lain pemberian garam, abu, pengelolaan
kompos
(
tajak-puntal-hambur
) untuk padi sawah, dan
melibur
untuk tanaman tahunan seperti jeruk, kelapa dan karet.
5. Peralatan pertanian yang merupakan produk lokal dan secara meluas digunakan di lahan rawa antara lain
sundak, tajak, tatajuk, ranggaman, lanjung, tikar purun, kakakar, gumbaan, kindai, kalumpu
dan lain sebagainya.
6. Sistem sosial kemasyarakatan yang berhubungan dengan organisasi/kelompok seperti
handil
(saluran irigasi dan drainase) dipimpin oleh kepala handil meliputi kawasan handil sepanjang 2-3 km dan berperan sebagai pengelolaan air dan pertanian setempat, termasuk perawatan saluran.
Kearifan budaya lokal di atas sekarang sebagian masih bertahan, tetapi sebagian juga sudah mulai pudar atau hilang karena tuntutan perkembangan sosial budaya masyarakat dengan muncul berbegai pilihan. Sejatinya pilihan tidak dimaksudkan untuk mendapatkan keuntungan sementara atau jangka pendek, tetapi mengakibatkan kemerosotan jangka panjang dalam aspek lingkungan. Pada hakekatnya kearifan budaya lokal dapat bertahan dengan upaya adaptasi atau penyesuaian-penyesuaian dengan mengikuti kondisi atau tuntutan yang berkembang.
2. SUMBERJAYA, LAMPUNG BARAT, Pertanian Berbasis Kopi
Pengetahuan lokal petani dalam konservasi
tanah dan air
Kebutuhan ekstensifikasi lahan untuk diolah menjadi areal perkebunan atau pertanian semakin meningkat sejalan dengan meningkatnya jumlah penduduk. Selain itu, persoalan hak penguasaan tanah baik antar warga, pemerintah maupun pihak swasta juga menjadi faktor penyebab upaya ekstensifikasi lahan di Sumberjaya. Hal-hal tersebut memicu terjadinya konversi hutan primer maupun sekunder menjadi areal pertanian serta pemanfaatan lahan sampai pada areal tanah miring yang selanjutnya membuka peluang meningkatnya erosi tanah sehingga terbentuklah lahan-lahan kritis.
Konstruksi tanah
Konstruksi tanah yang telah dipraktekkan petani adalah pembuatan teras dan rorak. Pilihan teknik konservasi ini dikenal secara luas karena dapat dilakukan dengan mudah dan murah, bahkan dapat dikatakan sudah menjadi bentuk praktek keseharian petani. Dari beberapa konstruksi teknik konservasi yang diterapkan petani di Sumberjaya, jenis teras adalah yang paling umum digunakan. Jenis teras
ini dapat dibuat tanpa harus merombak tanaman kopi yang sudah ada. Proses pembuatan teras sederhana dapat dilakukan secara bertahap (gradual) disesuaikan dengan kemampuan petani.
Penerapan sistem agroforestri
Selain konstruksi tanah, petani di Sumberjaya telah menerapkan sistem agroforestri baik sederhana maupun kompleks untuk mengelola kebun kopi
mereka. Sistem ini ditandai dengan penanaman tanaman buah-buahan, tanaman kayu atau tanaman legum multiguna di antara tanaman kopi sebagai tanaman pelindung (Agus
et al
., 2002). Bahkan sebagian petani beranggapan bahwa tanaman pelindung/naungan memiliki fungsi konservasi terhadap tanah dan air, terutama dalam jangka panjang. Beberapa fungsi konservasi yang diberikan oleh
tanaman pelindung/naungan menurut pendapat petani adalah sebagai berikut: (1) memberikan naungan. Pada sistem agroforestri kopi dengan naungan kompleks atau multistrata, lapisan tajuk yang menyerupai hutan berfungsi memberikan naungan terhadap kopi dan melindungi permukaan tanah dari terpaan air hujan;
(2) menjaga suhu, kelembaban udara dan kelembaban tanah di sekitar kebun. Lapisan tajuk dari pohon pelindung dan serasah yang jatuh dapat mengurangi
masuknya cahaya matahari ke dalam kebun dan tanah sehingga suhu, kelembaban udara dan kelembaban tanah di sekitar kebun tetap terjaga. Akar-akar pohon naungan juga dapat menyimpan air sehingga dapat menjaga kelembaban tanah dan ketersediaan air tanah (3) menambah kandungan hara dalam tanah.
Teknologi konservasi tanah dan air
Selain petani sebagai aktor utama, para actor pendukung dari berbagai instansi pemerintah dan organisasi atau kelompok yang mempunyai kepentingan terhadap sumberdaya alam mempunyai peranan penting dalam pengelolaan sumberdaya alam. Para aktor pendukung yang merupakan aktor luar tersebut berperan memberikan input inovasi berupa pengetahuan baru maupun pengembangan pengetahuan lokal yang telah ada. Bahkan para actor pendukung dapat bekerja bersama-sama dengan petani lokal untuk mengembangkan teknik-teknik konservasi tanah dan air.
Penggunaan tanaman penutup tanah dan
penyiangan parsial
Penggunaan tanaman penutup tanah dan penyiangan secara parsial merupakan bentuk pilihan konservasi pada tanah miring maupun landai pada tanaman kopi berumur muda (Agus
et al.
, 2002). Berdasarkan hasil penelitian didapatkan bahwa penyiangan menyeluruh berdampak mempercepat limpasan permukaan sehingga membuka peluang erosi yang lebih besar. Oleh karena itu, petani bersama para ilmuwan melakukan eksplorasi dan analisis bersama yang kemudian melahirkan inovasi teknik penyiangan parsial. Teknik ini dianggap dapat mengurangi kompetisi tanaman kopi dan gulma, namun tetap mengurangi resiko erosi. Selain itu, penanaman tanaman penutup tanah dapat membantu meningkatkan kesuburan tanah melalui serasahnya yang jatuh. Serasah tersebut
mengandung bahan organik sehingga dapat meningkatkan kandungan bahan organik tanah.
Perbedaan pengetahuan diantara berbagai
kategori petani
3. Pengembangan Sistem Agroforestri Aceh Barat, langkah awal pelestarian Hutan Aceh ke depan.
Terminology
Terminology sistim agroforestry sudah menjadi sebuah istilah yang tidak asing bagi masyarakat kehutanan, namun disekitar wilayah Aceh Barat hal ini masih cukup asing, walaupun defenisi yang dipahami masyarakat tidak bersifat kontekstual adanya. Karena tipe masyarakatnya adalah masyarakat desa yang belum mengenal teknologi dan informasi disektor kehutanan, pengelolaan kebun dan juga istilah bibit unggul, istilah okulasi atau sistem pengadaan bibit secara vegetative dan lainnya.
Use of Trees in Space and Time
Komoditas karet (
Hevea brasiliensis
), Kelapa Sawit dan Cacao adalah tiga komoditas primadona di daerah kehutanan Aceh Barat, sehingga selama ini penggunaan lahan perkebunan hanya terfokus dengan system monokultur untuk tiga komoditas tersebut saja. Keadaan ini juga sama pada areal hutan yang dirubah fungsinya untuk lahan perkebunan, pelaksaan penerapan system agroforestry pada lahan penyangga maupun areal Gambut di wilayah Aceh Barat telah mulai dilaksanakan agar dapat mendukung penambahan pendapatan bagi masyarakat di kawasan hutan sehingga nantinya tidak lagi mereka dilihat sebagai potensi lahan yang bisa digarap saja, akan tetapi sebuah kawasan perlindungan yang harus dilestarikan untuk mendukung system kehidupan sekitarnya.
Tree Management and Domestication
Banyak diantara petani yang hanya melakukan peremajaan pada kebun karet dan coklat(Cacao sp) tuanya bila produktivitasnya sudah sangat rendah. Tidak ada system tumpang sari atau polykultur dikebun karet mereka ataoupun di Cacao. Hal ini disebabkan mereka takut kalau produktivitas kebun yang dihasilkan nantinya akan rendah, padahal dengan sistem penamana jenis karet, sawit dan Cacao yang dilakukan dengan sistem jalur yang rapi akan mungkin dapat dijadikan sebuah system campuran di dalam satu kebun petani. Sebagai contoh Tanaman karet dengan tanaman kayu yang lain seperti Pohon jelutung yang getahnya dapat dimanfaatkan untuk industri permen karet, tanaman Lidah Buaya dengan tanaman rimpang dan lain-lain.
Local Ecological Knowladge and IPR (Intelectual Property Right)
Seiring perkembangan zaman, kearifan lokal yang ada kini telah hilang dimana Pola-pola pertanian atau perkebunan sudah mengikuti pola perkembangan teknologi pertanian atau perkebunan yang intensive. Pemahaman ilmiah tentang manfaat ekologi dan ekonomi dalam Agroforestri berbasis karet masih sangat kurang. Hal ini menyebabkan adanya pemahaman bahwa sistem kebun campuran tidak menguntungkan secara ekonomi, pada hal system monokultur yang selama ini dilakukan juga sangat bergantung kepada harga komoditas yang ada, sehingga bila harga komoditas turun para petani tidak bisa mengatur penghasilan kebunnya, padahal di sisi lain kalau mau saja para petani melakukan pola perkebunan campuran maka mereka masih punya peluang penghasilan ganda dari kebunnya.
Componen Interaction
Komponen Ekonomi
: Pola pengumpulan hasil kebun ada yang di panen dan dikumpulkan sendiri disamping juga ada yang memperkerjakan orang lain. Hasil kebun dikumpulkan di satu tempat dan penjualan di lakukan sebanyak dua kali dalam satu bulan yang dibeli oleh agen atau tengkulak.
Komponen Ekologi
: Banyak Area kebun petani juga merupakan wilayah jelajah satwa liar dan dilindungi seperti
Gajah Sumatera, Harimau Sumatera dan Orang Hutan Sumatera
. Sehingga sering juga terjadi konflik antara manusia dan satwa itu. Pengembangan system Agroforestry sedapat mungkin harus juga bisa berperan dalam hal mengakomodasi aspek konflik manusiadengan jenis tanaman yang bisa menghalau jenis satwa tertentu dari areal perladangan ataupun perkebunan. Praktek seperti ini bisa dalam bentuk jalur hijau yang berfungsi sebagai penyangga fisik area budidaya dari gangguan, pengaruh jenis eksotik tumbuhan dan sebagai perluasan
homerange
satwa hutan.
Aspek Sosial
:
Sistem hubungan sosial dalam pola pertanian dan perkebun dapat diterapkan melalui pola system
“paruh”
yaitu seorang yang diberikan mengelola lahan kebun oleh masyarakat pemilik lahan, pada setiap penjualan hasil kebun akan dibagi dua bagian antara pemilik dan pengelola kebun. Hubungan yang terjalin antara sang pemilik lahan sekaligus pemodal dengan pihak pengelola kebun adalah hubungan saling percaya dan ketergantungan antara satu dengan yang lainnya.
Input/Output Relation and Profitability Assessment
Pengelolaan kebun masyarakat sangat membutuhkan pupuk dan pengawasan serta perawatan yang intensif, sehingga membutuhkan modal yang tidak sedikit, akan tetapi dari aspek pasar masyarakat petani tidak mengalami kesulitan karena tersedia pasar lokal dimana penjualan hasil kebun seperti karet, Sawit dan Cacao dapat dijual dua kali dalam sebulan. Bila komoditas ini dicampur dengan komoditas lain tentu masih berpeluang untuk menjangkau pasar. Untuk memenuhi kebutuhan kayu lokal masyarakat masih dimungkinkan untuk membuat tanaman pagar atau bertumpang sari dengan tanaman kayu. Seperti contohnya di daerah penyangga Taman Nasional Gunung Halimun masyarakat menanam pohon Sengon dan Mahoni, dalam 1 keluarga ada yang memiliki 700 batang pohon Sengon (Bismark, 2004).
Agroforestry
juga
di Sumatera Barat telah juga dilakukan dengan membudidayakan 40 jenis pohon yang bernilai ekonomis dalam satu lokasi kebun masyarakat dan Desa. (Michon dan Deforestra, 1995).
Tree and Land Tenure and Policy Issues
Alih-guna lahan hutan menjadi lahan pertanian disadari dapat menimbulkan banyak masalah seperti penurunan kesuburan tanah, erosi, kepunahan flora dan fauna, banjir, kekeringan dan bahkan perubahan lingkungan global. Masalah ini bertambah berat dari waktu ke waktu sejalan dengan meningkatnya luas areal hutan yang dialih-gunakan menjadi lahan usaha lain. Agroforestri adalah salah satu sistem pengelolaan lahan yang mungkin dapat ditawarkan untuk mengatasi masalah yang timbul akibat adanya alih-guna lahan tersebut di atas dan sekaligus juga untuk mengatasi masalah pangan. Konflik tata batas kawasan adalah salah satu persoalan yang hingga saat ini masih belum terselesaikan secara tuntas. Dibeberapa titik perebutan hak pengelolaan dn kepemilikan atas lahan antara masyarakat dan pemerinah daam hal ini. Perambahan kawasan untuk dialih fungsikan menjadi areal kebun juga masih terjadi
SWOT of the Agroforestry Technology yang bisa diterapkan di kawasan Aceh Barat.
A. Kebut Karet Campuran (Tumpang Sari)
B. Budidaya Lebah Madu Karet
C. Kebun Cadangan Kayu ( Kebun Karet)
4.
Pengembangan Ekonomi berbasis agroforestri Mentawai
Agroforestry
Program Pengembangan Ekonomi dilakukan melalui skema Agroforestri. Agroforestry ini berdasar atas pengetahuan lokal masyarakat Mentawai yang disebut sebagai pumonean. Pumonean ini adalah sebuah praktek integrasi tanaman hutan, tanaman pertanian, dan tanaman komersial melalui skema perladangan. PASIH mengembangkan program ini selama 6 tahun di 9 dusun di 4 desa di Siberut Selatan. Program agroforestry dimunculkan untuk skema antisipasi kemiskinan akibat pengelolaan sumber daya yang ekstraktif. PASIH telah bekerja dengan masyarakat untuk mengembangkan jenis-jenis asli seperti rotan manau (Calamus manan), dengan tanaman introduksi yang sesuai dengan ekologi Siberut seperti pala (Myristica fragrance), pinang (Pinangan annata), dan kakao (Theobroma cacao).
PASIH telah memfasilitasi pelatihan teknik-teknik baru manajemen hutan dengan lebih menekankan keterampilan budidaya. Pola tanam dikembangkan melalui pengenalan teknik-teknik penanaman dan pemilihan jenis-jenis tanaman budidaya yang tepat. Melalui program ini, teknik-teknik perladangan baru (jarak tanam, perawatan semi-intensif, pemangkasan, penjarangan, seedling nursery) yang diintegrasikan dengan silvikultur lokal telah berhasil memproteksi hutan-hutan di Siberut dari sistem pembukaan ladang tebang habis. Agroforestry dapat menjadi terobosan dalam merumuskan strategi pemulihan sumber daya tradisional bagi perekonomian masyarakat di Siberut.
Ekowisata
Ekowisata diyakini sebagai jalan tengah untuk konservasi dan pembangunan. Nilai estetik keanekaragaman hayati dan ekologi dapat dinikmati dan membawa keuntungan ekonomi tanpa harus dieksploitasi. Dalam hal konteks ini PASIH berusaha secara langsung untuk mengenalkan ide konservasi dengan menjadi pelaku industri ekowisata.
Melalui paket wisata ini, PASIH berusaha mendapatkanpendanaan tambahan untuk kegiatan konservasi. Sejauh ini kegiatan konservasisangat tergantung dengan pendanaan dari luar melalui pendekatan project. PASIHberusaha untuk mengatasi ketergantungan tersebut dengan memunculkan inisiatifekowisata. Keuntungan dari usaha ekowisata ini akan digunakan untuk melakukanaksi konservasi dan pemberdayaan ekonomi masyarakat. berwisata bersama PASIHberarti juga dapat membantu usaha konservasi Siberut. Hal ini membuat PASIHmemiliki pemahaman budaya, karakter dan cara hidup masyarakat Mentawai diSiberut.
Comments
Comments